Murid

Pondok Pesantren Kempek

Murid

pondok pesantren kempek cirebon

Kempek Onine – Secara bahasa adalah orang yang sedang berguru. Atau orang yang sedang mempelajari sesuatu dari orang lain (guru).

Kalau dalam bahasa Arab berasal dari kata أراد يريد إرادة yang memiliki padanan dalam bahasa Indonesia; kehendak. Murid ; orang yang menghendaki atau mencari. Dan Murod (Guru) ; orang yang dikehendaki atau dicari.

Sebelum seorang murid berguru, ada banyak hal yang perlu disiapkan agar ilmu yang didapat dari guru tersebut bisa benar benar melekat dan bermanfaat. Ibarat gelas, kita harus mencucinya terlebih dahulu agar air yang masuk dalam gelas itu murni dan jernih. Tidak keruh atau terkontaminasi zat lain. Begitu seharusnya.

Namun, dalam prosesnya tidak melulu harus seperti itu, peran siapa yang kita jadikan sebagai guru (pun) sangat mempengaruhi. Ada banyak model dan tingkatan guru. Ada guru yang bisa membibing muridnya mengetahui materi yang akan disampaikan.

Ada guru yang bisa menyampaikan materi dan mampu membuat muridnya mempraktikan apa yang ia pelajari. Ada guru yang bisa menyampaikan, membuat muridnya mempraktikan dan mampu membuat murid tersebut bisa menyampaikannya kepada orang lain.

Baca juga : “Ngaji Kempekan” Membaca Al-Qur’an Ala Pesantren Kempek

Ada guru yang bisa menyampaikan, membuat muridnya mempraktikan, mampu membuat murid tersebut bisa menyampaikan kepada orang lain, dan orang lain bisa mempraktikan.

Ada guru yang bisa menyampaikan, membuat muridnya mempraktikan, mampu membuat murid tersebut bisa menyampaikan kepada orang lain, orang lain bisa mempraktikan dan bisa menyampaikannya kepada orang lain lagi (kedua, dan seterusnya).

Ada pula guru yang bisa menyampaikan, membuat muridnya mempraktikan, mampu membuat murid tersebut bisa menyampaikan lagi ke orang lain, orang lain bisa mempraktikan, bisa menyampaikan lagi ke orang lain dan sekaligus guru tersebut tetap membimbing jasad dan ruh kita. Memperbaiki anggota dan menuntun hati kita. Mencuci dan membersihkan gelas yang kita punya.

Maka benar, dalam al-Qur’an :
كل أناس مشربهم.

Kata masyrab (tempat minum/sumber ilmu) menggunakan kata tunggal, artinya hanya guru tertentu yang memiliki wewenang seperti dijelaskan diatas.

Proses yang sedemikian panjang dalam istilah ulama adalah buah dari kemanfaatan ilmu. Tidak mudah mendapatkan anugrah demikian, perlu kesungguhan dan kehati hatian. Maka tidak heran jika ulama dahulu selalu memilih kepada siapa beliau akan berguru.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata “Aku rela menjadi budak bagi orang yang telah mengajariku walau satu huruf”

Imam Ali berkata demikian karena beliau berguru kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan Imam Ali rela menempati tempat istirahat Nabi Muhammad ketika tahu dikepung oleh kafir quraisy dan tahu jika sewaktu waktu bisa terbunuh.

Sampai seperti itu sikap murid kepada gurunya. sikap ta’dzim yang bukan sekedar wacana. karena proses menuntut ilmu bukan proses main main.

Semoga kita bisa menjadi murid yang baik dan diberikan anugerah murod (guru) yang bisa membimbing kita, jasadan wa ruhan.

Oleh : Muhammad Bayanillah
Gamaleya, 20 April 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *